Inhaler - Risikonya - Asma (diskusi yang menarik)

Sunday, October 12, 2008

Inhalers may up heart death risk
Page last updated at 07:58 GMT, Wednesday, 24 September 2008 08:58 UK

Inhalers prescribed for serious lung disease may increase the risk of deadly heart problems, say researchers. Trials on more than 15,000 patients found inhaled anticholinergic drugs increased the risk of heart attack, stroke and cardiovascular death by 58%.
The drugs, Atrovent and Spriva, open up the airways to help patients with chronic obstructive pulmonary disease (COPD) to breathe.

The work is published in the Journal of the American Medical Association.

More than two million prescriptions for anticholinergic inhalers were issued in England last year, according to the researchers from the Wake Forest University School of Medicine in the US and the University of East Anglia in the UK.

In the 17 trials that they analysed, long-term use (more than 30 days) of the two anticholinergics ipratropium (Atrovent) and tiotropium (Spiriva) increased the risk of a heart attack by 53% and the risk of cardiovascular death by 80%.

This would mean the drugs could cause one in 40 users to die from a heart condition and one in 174 to have a heart attack, say the researchers.

Risks versus benefits

But they said these risks had to be balanced against the benefits of using an inhaler - they improve patients' quality of life by preventing disease exacerbations and COPD-related hospitalisations.

Researcher Dr Yoon Loke said: "It is a relatively small risk - about 3% of users develop problems - but the risk is serious. They may cause heart attacks and death.

"There are alternatives. If you know that your inhaler contains anticholinergics, my advice would be to ask your doctor to prescribe a different inhaler, particularly if you have a history of heart trouble or are at high risk of heart disease."

He said the vast majority of people with COPD are or have been heavy smokers, so they are already at heightened risk of heart attacks.

The current study was unable to determine if these risk factors influenced the findings.

Conflicting opinion

Dr Loke's team started to look at the problem after the manufacturers issued a warning earlier this year through the US Food and Drug Administration that there could be a higher risk of stroke as a result of using these inhalers.

Boehringer Ingelheim said it strongly disagreed with Dr Loke's findings. Its latest analysis of 30 placebo-controlled double-blind, randomised trials with data from 19,545 COPD patients "demonstrated that there is no increased risk of death (all-cause) or death due to cardiovascular events" in patients treated with Spiriva.

Dr Keith Prowse, chairman of the British Lung Foundation, said: "Anticholinergic agents are a very useful and important medication for a large number of people with COPD.

"This study highlights a possible risk of heart attack associated with the medication but the authors acknowledge that there is insufficient data to allow full analysis of other risk factors, including hypertension and pre-existing heart disease, so we need more research to establish accurate levels of risk.

"In the meantime, people should discuss any concerns they have with their GP."

Judy O'Sullivan, cardiac nurse at the British Heart Foundation, said: "Anyone with COPD who is benefitting from taking anticholinergic inhalers should not stop taking them based on this study alone."

COPD caused over 27,000 deaths in the UK in 2004, and is projected to be the world's fifth biggest killer by 2020.

Elaine Vickers, research manager at Asthma UK, said: "This research looks solely at people with COPD who, unlike most people with asthma, have irreversible damage to their airways.

"This study looks specifically at medicines not commonly used to treat asthma and if you have asthma it is vital that you take your medicines as prescribed.

"If you have any concerns please speak with your doctor or asthma nurse or call the Asthma UK Adviceline on 08457 01 02 03."

http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/7631688.stm

****
Menanggapi artikel ini, seorang member milis mengkaitkannya dengan asma :

saya agak nggak ngerti isi beritanya, mohon pencerahannya dong..

Kalau saya tangkap beberapa poin:

1. Penggunaan ipratropium dan tiotropium ditengarai meningkatkan risiko masalah pada jantung yg fatal (mematikan) spt serangan jantung, stroke dan cardiovascular death pada penderita COPD.
2. Risiko yg teramati adalah pada penggunaan kedua obat2an antikolinergika tersebut selama lebih dari 30 hari.
3. Tetapi sebenarnya dalam studi itu belum diperhitungkan kemungkinan pre-existing penyakit jantung dan kardiovaskular dari sampel penderita2 COPD yg diberi kedua obat2an antikolinergika tersebut (jadi pelu diteliti mana pasien yg hanya menderita COPD, mana yg menderita COPD DAN penyakit2 jantung dan kardiovaskular)
4. Tujuannya untuk mengetahui apakah peningkatan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular itu terjadi pada SEMUA penderita COPD, atau hanya pada penderita COPD yang juga mempunyai penyakit/riwayat penyakit jantung dan kardiovaskular.
5. Karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut yg juga memperhitungkan faktor2 risiko penyakit jantung dan kardiovaskular yg dimiliki oleh para penderita COPD yg diberi kedua obat2an antikolinergika tersebut.
6. Apabila ditemukan hubungan bahwa kedua obat2an antikolinergika tersebut meningkatkan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular pada penderita2 COPD yang juga menderita/mempunyai riwayat penyakit2 jantung dan kardiovaskular, barulah anjuran untuk mengganti obat2an antikolinergika dg obat2an jenis lain pada pasien2 tersebut perlu diperhitungkan.

Benar nggak pemahaman saya di atas?

Pertanyaan saya,
1. apabila obat2an antikolinergika memang diberikan HANYA pada penderita COPD, mengapa di akhir artikel disinggung juga soal asma ? Bukannya di artikel tsb dijelaskan bahwa COPD dan asma adalah dua penyakit yg berbeda ?

" Elaine Vickers, research manager at Asthma UK, said: "This research looks solely at people with COPD who, unlike most people with asthma, have irreversible damage to their airways."

-----> COPD = kerusakan pada saluran pernapasan di paru-paru bersifat
irreversibel (tidak dapat diperbaiki).
Asma = inflamasi (peradangan) saluran pernapasan di paru-paru bisa membaik
(reversibel) dengan sendirinya atau dengan bantuan obat-obatan.

2. Apakah itu menyiratkan bahwa obat2an antikolinergika pun lazim diberikan pada penderita asma utk menangani serangan asma?
Kalau saya baca di MayoClinic sih, ada (maksudnya penanganan serangan asma dgn antikolinergika). Tapi indikasinya bagi saya sebenarnya masih kurang detail (maksudnya, serangan asma yg bagaimana sih yg sampai perlu antikolinergika?)

3. Lalu sebenarnya bagaimana penggunaan obat2an antikolinergika pada serangan asma?
Apakah benefitnya bisa dianggap lebih besar dari risk-nya, sehingga diberikan?
Atau tidak perlu?

4. Kalaupun antikolinergika juga DAPAT diberikan kpd penderita asma untuk menangani serangan asma, apakah kita perlu curiga juga bahwa pemberian itu meningkatkan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular pada penderita asma?
Penderita asma yg bagaimana? Apakah pada SEMUA penderita asma, atau hanya
pada penderita asma yg JUGA memiliki riwayat penyakit jantung dan kardiovaskular?
Bagaimana dgn penderita asma anak, apakah introduksi antikolinergikan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan kardiovaskular pada saat mereka dewasa nanti?

Maaf pertanyaannya banyak. Tapi memang ada hubungannya dgn hal2 yg ingin
saya tinjau dlm penanganan seranangan asma si sulung saya.

Banyak terima kasih dan salam,
***

Dan para dokter, menjawabnya dengan sangat gamblang :

Mbak **, saya belum baca artikel penelitian aslinya, tapi kalo pemahaman saya begini:
Penelitian ini me-review berbagai penelitian dengan subjek penderita COPD (PPOK, penyakit paru obstruktif kronis), saya gak tau usia sampelnya tapi saya yakin sampelnya hampir 99% adalah orang dewasa - lanjut usia. Betul, orang dewasa apalagi yang lanjut usia sangat mungkin sudah punya pre-existing condition untuk terjadinya cardiovascular events, dan tampaknya penelitian ini tidak mengeluarkan dulu/mengeksklusi pasien dengan pre-existing condition. Kalo mau tau, ya harus dicari satu-satu artikel asli penelitiannya.

Pada asma anak, antikolinergik (inhalasi) memang masih dipakai, at least untuk pedoman asma keluaran IDAI masih menggunakannya. Di Appendix B pada Guideline Asma dari GINA (tentang asthma relievers) juga tercantum anticholinergics. Pada pedoman asma IDAI, antikolinergik ini digabung dengan beta-2 agonis, dipakai pada kondisi asma serangan berat. Berbeda dengan PPOK yang menggunakannya dalam jangka lama, pemakaian antikolinergik pada asma anak hanya dipakai saat serangan akut saja, tidak jangka lama. Pre-existing condition untuk cardiovascular events pada anak jauh lebih kecil dibandingkan pada orang dewasa, dan pemakaian antikolinergik pada anak tidak jangka lama, jadi menurut saya pribadi (CMIIW) tidak perlu khawatir.

Regards,
dr. E**

***
Concern saya:
1. Obat antikolinergik ini di Indo dipergunakan secara "sembarangan"
Anak batuk, nebulizernya dikasih obat ini! Padahal anak tersebut tidak asma (boro2 asma berat .. wong asma saja bukan ... maaf)
Nah overuse ini yang membuat saya concern

2. Semua terapi harus dihitung risk and benefit nya
Kalau benefitnya lebih besar dari risk nya ... ya kita eksekusi. Tetapi .. anak batuk kan gak dapat benefit dari obat ini

3. Lalu .. bagaqimana dengan anak2 ini?
Apakah juga berisiko mengalami gangguan kardiovaskular seperti pasiien COPD di penelitian ini?
Tidak tahu. Mungkin saja ....

Bagaimanapun juga ... ini harus jadi perenungan
Jangan sampai gara2 "gak tega" lihat anak batuk ... kita justru "tega" kasih obat yang tidak dia butuhkan
yang bahkan bisa merugikan dia

dr. P**
***

1 komentar:

Murray Janet said...

Heart attacks are less likely for non-smokers as compared to the smokers. According to WHO, individuals who quit smoking decrease their risk of CAD one year later by 50 %. If you have quit smoking, for 15 years, your risk of dying from CAD is almost as low as a life time non-smoker. http://www.chantixhome.com/